Senin, 24 Oktober 2011

Mencuri Bulan (Part 2)

Nafasmu tertahan dan dari wajahmu tampak raut penasaran luar biasa. Walau begitu kau tetap terlihat cantik. Luar biasa cantik. Dan aku mulai berhenti berpikir tentang kelanjutan ceritaku tadi dan mulai berandai-andai sejak kapan aku duduk berdua saja dengan gadis secantik dirimu.

"Kau diam?", tanyamu retoris.

"Ah, ya. Kurasa aku diam..." Jawabku tak menjawab.

Lalu kau cemberut. Alih-alih takut aku malah tersenyum. Mana bisa ada orang takut dengan wajah cemberut semanis ini?

"Hei, lanjutkan ceritamu!" ujarmu. Entah pinta, entah perintah.

Aku hanya tersenyum. Dengan sekali gerakan kuambil kopi, kuteguk sedikit kemudian kukembalikan ke atas meja. Kau terlihat tak sabar. Aku tak peduli. Ini yang kunikmati saat menceritakan cerita padamu: ketidak sabaranmu.

"Bukan begitu aturannya. Bukankah dari awal kamu sudah setuju bahwa aku akan menceritakan sebuah cerita misteri?"

"Iya, tapi tidak beginiiiiii!" kau berteriak manja. "Bagaimana dengan pencurian bulannya? Dimana misterinya? Lalu apakah si lelaki itu akan mendapatkan hati gadis itu?"

"Sabar..."ujarku. "Kamu harus menikmati cerita seperti meminum kopi. Terlalu cepat dan kamu akan kehilangan kesempatan menikmati rasa dari kopi itu. Terlalu lambat, kopi akan menjadi dingin dan kehilangan aromanya."

Kamu akhirnya menarik diri ke belakang, bersandar ke kursi. Sekeras mungkin kamu berusaha tampak santai, tapi percuma. Kamu tetap tampak penasaran setengah mati. Akhirnya kau berkata pelan, "Lanjut ceritamu...ya?"

"Yan akan kulanjutkan. Nikmati saja. Mungkin pada akhirnya laki-laki itu akan mencuri bulan. Mungkin juga tidak. Mungkin akan ada misteri, mungkin juga tidak. Tapi walau tak ada misteri sekali pun, hal itu akan menjadikannya sebuah misteri baaru karena aku menjajikanmu sebuah cerita misteri dan aku bukan seorang pembohong."

"...dan masalah apakah laki-laki itu mendapatkan hati gadis itu, kuserahkan penilaian itu padamu di akhir cerita. Bukankah perempuan jauh lebih ulung tentang masalah hati?"

Kau tersenyum. Aku tahu kamu ingin berbicara dan menyudutkanku tapi entah bagaimana caranya dapat kau tahan. Kau hanya mengangguk. Dan entah untuk berapa kalinya dalam hari ini, aku tersenyum. Kutarik nafas sekali lagi kemudian kulanjutkan ceritaku...

1 komentar:

Lidya Pawestri Ayuningtyas mengatakan...

ceritanya filosofis :)