Minggu, 11 September 2011

Mencuri bulan (Part 1)

"Lumba-lumba mungkin nantinya bisa berbicara, tapi Bulan akan tetap selalu ada." ujarmu.

Kata-katamu selalu keluar acak. Bagai potongan-potongan halaman dari seribu novel yang dijadikan satu buku pendek. Bahkan saat kita sedang berjalan keluar dari sebuah toko kelontong tahu-tahu saja kamu berbicara. Dan ya itu tadi, ucapanmu tak pernah dapat diprediksi.

"Begitu menurutmu?" tanyaku.

"Yap!", kamu mengangguk. "Itu menurutku. Bulan-akan-tetap-selalu-ada." pelan-pelan kau ulangi kalimatmu.

Kemudian kau membuka es krim yang baru saja kita beli. Kau tawarkan satu padaku tapi kutolak halus. Ucapanmu tadi tampak lebih menggiurkan daripada es krim yang menetes-netes di tanganmu.

"Tapi dulu bumi pernah tak memiliki bulan." ujarku.

"Yap!" ucapmu singkat.

"Lho, bukankah itu membuat ucapanmu kontradiktif?"

Kamu berhenti berjalan. Bingung tak tampak sama sekali dari raut wajahmu. Lalu tiba-tiba tawamu meledak. Aku kebingungan. Orang-orang yang berjalan di sekitar kita mendadak menatap kita dengan wajah aneh. Aku hanya memasang wajah bodoh tak mengerti. Memang aku tak mengerti.

"Justru itu, Sayang." hatiku berdesir saat kau berkata sayang. "Itu proses. Bumi harus tak memiliki Bulan dulu sebelum memiliki satu. Lalu nanti pada akhirnya Bulan itu tak akan kemana-mana. Bulan selalu jadi milik Bumi seperti Bumi selalu menjadi milik Bulan."

Kucoba mencerna kata-katamu. Mungkin mengerti, mungkin tidak. Lalu kukeluarkan sebuah pertanyaan yang selamanya akan mengubah hidupku:

"Bagaimana jika pada akhirnya Bulan tidak ada?"

"Bulan akan tetap ada." ujarmu yakin. "Aku bahkan berani bertaruh untuk itu."

"Oh ya? Ayo kita bertaruh!" ajakku.

Kau tersenyum lalu mengatakan hal yang tak akan pernah aku lupakan:

"Jika nanti Bulan tak ada dan kamu yang mencurinya. Maka akan kuberikan hati ini untukmu."

Aku terdiam sesaat. Lalu bertanya, "Mengapa harus aku yang mencurinya?"

"Karena disitulah taruhannya! Tidak adil jika hanya aku yang bertaruh." kamu tersenyum, "Hei, hatiku yang menjadi taruhannya!"

Aku mau tak mau tersenyum juga. Aku mengangguk. "Oke, deal!"

Kau hanya mengangguk sambil tersenyum. Dan sejak saat itu tujuan hidupku hanya satu: Mencuri Bulan.

1 komentar:

Lidya Pawestri Ayuningtyas mengatakan...

Do, gue nulis cerita tentang bulan juga ya, haha.