Saya tak pernah cukup baik dengan diari, entah mengapa. Jauh berbeda dengan adik saya. Dia punya diari dari dia SD sampai sekarang. Mengagumkan. Diari-diari saya biasanya hanya berujung tulisan beberapa halaman lalu kosong. Kecuali beberapa lembar di belakang yang biasanya penuh dengan coret-coretan saya.
Tapi saya cukup baik dengan tulisan, entah mengapa. Saat saya membaca tulisan saya lagi, saya bisa mendeskripsikan ulang keadaan saya saat itu. Sedang marah, sedih, patah hati, apa lah. Karena itu biasanya saya menulis disini atau blog saya yang satu lagi.
Sebulan ini saya tinggal di Cijawura. Kerja Praktek. Sebuah Perusahaan di Bandung berbaik hati menerima saya. Pertama kalinya saya merasakan frustasi ditolak kerja praktek dimana-mana. Pertama kalinya saya merasa bersyukur bisa diterima kerja praktek.
Saya akan merindukan saat-saat saya kerja praktek disini. Sungguh. Datang pagi-pagi dan menceklek absen (menceklek? Benarkah itu?), menyapa satpam dan beberapa orang yang sedang duduk santai di posnya menunggu waktu masuk kerja, bekerja, kemudian pulang ke rumah.
Saya memutuskan untuk menghemat makan dan membiarkan uang yang ada untuk membeli buku dan makan enak sekali seminggu. Saya suka saat duduk di bangku luar restoran lalu memperhatikan keluarga-keluarga silih berganti masuk ke pusat perbelanjaaan. Untuk beberapa saat saya sering berpikir bahwa hidup seperti ini tak buruk juga.
Saya pulang ke kosan dan biasanya saya membaca buku. Dan sialnya buku-buku itu seringkali habis sehari baca. Lucu, mengingat buku-buku saya yang seringkali hanya tertumpuk di kosan tak terbaca. Saya jadi sering menulis, sepertinya itu salah satu hiburan saya yang menyenangkan.
Saya suka saat bangun pagi-pagi, mengambil cangkir menyeduh kopi. Kemudian duduk di beranda, memperhatikan suasana dan sudah. Biasanya jika saya beruntung di sebuah sofa di beranda ada kucing hitam tertidur. Ia tak peduli dengan kehadiran saya. Sedangkan saya? Saya peduli dengan ia.
Biasanya saat kopi sudah dingin kucing itu akan terbangun, melompat ke atap kemudian hilang. Saya tak tahu kemana ia seharian. Ke tempat saya bekerja mungkin. Tapi saya rasa mustahil, saya pasti menyadarinya.
Sudahkah saya katakan bahwa kosan saya ada di lantai dua? Beranda menjadi semakin menakjubkan. Saya selalu suka lantai dua. Kosan saya di depok pun lantai dua. Orang tua saya berkali-kali memberi usul untuk saya pindah kosan. Saya menolak tapi tak pernah yakin alasan saya apa. Mungkin karena kosan saya ada di lantai dua. Itu saja
Saya suka melihat ke bawah dan pemandangan berganti-ganti. Orang yang buru-buru berangkat ke kantor, pedagang makanan keliling, atau ibu-ibu yang sedang berbelanja. Namun pemandangan yang paling saya suka adalah anak kecil yang menuju ke sekolahnya.
Saya ingat baru kemarin saya memperhatikan seorang ibu mengantarkan anak laki-laki kecil dengan seragam tk nya ke sebuah tk. Saya baru sadar bahwa hari itu adalah hari dimulai tahun ajaran baru. Ibu itu mengantarkan anaknya ke hari pertama sekolah. Menyenangkan. Saya tersenyum melihatnya.
Beberapa tahun kemudian anak itu akan masuk sd, smp, sma, lalu jika beruntung kuliah. Semakin lama ia akan semakin jauh dari orang tuanya. Tapi setidak-tidaknya orang tuanya pernah mengantarkan anak nya ke hari pertama sekolah. Menyedihkan rasanya, namun setelah saya pikir-pikir lagi tidak.
Lalu ada anak tk yang berangkat ke tk nya sendiri. Saya tersenyum lagi, entah kenapa. Mungkin karena tas spongebob nya (yang berani taruhan, baru), karena ia menari-nari sambil berjalan ke tk, atau mungkin saya tersenyum hanya karena ada anak tk berangkat ke tknya sendiri.
Saya menikmati setiap detik saat saya berada di sini. Saat saya berkerja dengan Pak Akhmad yang dengan baik mau menjelaskan lagi pertanyaan yang saya ulang karena tak mengerti. Pak Edi yang menyuruh saya untuk bersantai saja saat berkerja. Pak Ikin yang selalu datang lebih dulu daripada saya di kantor. Pak disebelah saya yang saya lupa namanya yang saat saya lihat komputernya pasti sedang membuka permainan kartu, entah solitaire entah Texas Hold'em Poker. Pak Satpam baik yang beberapa kali mengabsenkan saya. Bapak yang baru-baru ini saya tahu kalau ia ada di resepsionis yang juga sering mengabsenkan saya. Saya suka atmosfir seperti ini.
Saya menikmati saat-saat saya berada di Cijawura. Bahkan malam-malam yang saya habiskan sendiri dan memikirkan tentang seseorang. Jadi jika nanti di masa depan saat saya membaca postingan ini, saya tahu dan yakin bahwa saya benar-benar menikmati saat saya di Cijawura.
Tapi saya cukup baik dengan tulisan, entah mengapa. Saat saya membaca tulisan saya lagi, saya bisa mendeskripsikan ulang keadaan saya saat itu. Sedang marah, sedih, patah hati, apa lah. Karena itu biasanya saya menulis disini atau blog saya yang satu lagi.
Sebulan ini saya tinggal di Cijawura. Kerja Praktek. Sebuah Perusahaan di Bandung berbaik hati menerima saya. Pertama kalinya saya merasakan frustasi ditolak kerja praktek dimana-mana. Pertama kalinya saya merasa bersyukur bisa diterima kerja praktek.
Saya akan merindukan saat-saat saya kerja praktek disini. Sungguh. Datang pagi-pagi dan menceklek absen (menceklek? Benarkah itu?), menyapa satpam dan beberapa orang yang sedang duduk santai di posnya menunggu waktu masuk kerja, bekerja, kemudian pulang ke rumah.
Saya memutuskan untuk menghemat makan dan membiarkan uang yang ada untuk membeli buku dan makan enak sekali seminggu. Saya suka saat duduk di bangku luar restoran lalu memperhatikan keluarga-keluarga silih berganti masuk ke pusat perbelanjaaan. Untuk beberapa saat saya sering berpikir bahwa hidup seperti ini tak buruk juga.
Saya pulang ke kosan dan biasanya saya membaca buku. Dan sialnya buku-buku itu seringkali habis sehari baca. Lucu, mengingat buku-buku saya yang seringkali hanya tertumpuk di kosan tak terbaca. Saya jadi sering menulis, sepertinya itu salah satu hiburan saya yang menyenangkan.
Saya suka saat bangun pagi-pagi, mengambil cangkir menyeduh kopi. Kemudian duduk di beranda, memperhatikan suasana dan sudah. Biasanya jika saya beruntung di sebuah sofa di beranda ada kucing hitam tertidur. Ia tak peduli dengan kehadiran saya. Sedangkan saya? Saya peduli dengan ia.
Biasanya saat kopi sudah dingin kucing itu akan terbangun, melompat ke atap kemudian hilang. Saya tak tahu kemana ia seharian. Ke tempat saya bekerja mungkin. Tapi saya rasa mustahil, saya pasti menyadarinya.
Sudahkah saya katakan bahwa kosan saya ada di lantai dua? Beranda menjadi semakin menakjubkan. Saya selalu suka lantai dua. Kosan saya di depok pun lantai dua. Orang tua saya berkali-kali memberi usul untuk saya pindah kosan. Saya menolak tapi tak pernah yakin alasan saya apa. Mungkin karena kosan saya ada di lantai dua. Itu saja
Saya suka melihat ke bawah dan pemandangan berganti-ganti. Orang yang buru-buru berangkat ke kantor, pedagang makanan keliling, atau ibu-ibu yang sedang berbelanja. Namun pemandangan yang paling saya suka adalah anak kecil yang menuju ke sekolahnya.
Saya ingat baru kemarin saya memperhatikan seorang ibu mengantarkan anak laki-laki kecil dengan seragam tk nya ke sebuah tk. Saya baru sadar bahwa hari itu adalah hari dimulai tahun ajaran baru. Ibu itu mengantarkan anaknya ke hari pertama sekolah. Menyenangkan. Saya tersenyum melihatnya.
Beberapa tahun kemudian anak itu akan masuk sd, smp, sma, lalu jika beruntung kuliah. Semakin lama ia akan semakin jauh dari orang tuanya. Tapi setidak-tidaknya orang tuanya pernah mengantarkan anak nya ke hari pertama sekolah. Menyedihkan rasanya, namun setelah saya pikir-pikir lagi tidak.
Lalu ada anak tk yang berangkat ke tk nya sendiri. Saya tersenyum lagi, entah kenapa. Mungkin karena tas spongebob nya (yang berani taruhan, baru), karena ia menari-nari sambil berjalan ke tk, atau mungkin saya tersenyum hanya karena ada anak tk berangkat ke tknya sendiri.
Saya menikmati setiap detik saat saya berada di sini. Saat saya berkerja dengan Pak Akhmad yang dengan baik mau menjelaskan lagi pertanyaan yang saya ulang karena tak mengerti. Pak Edi yang menyuruh saya untuk bersantai saja saat berkerja. Pak Ikin yang selalu datang lebih dulu daripada saya di kantor. Pak disebelah saya yang saya lupa namanya yang saat saya lihat komputernya pasti sedang membuka permainan kartu, entah solitaire entah Texas Hold'em Poker. Pak Satpam baik yang beberapa kali mengabsenkan saya. Bapak yang baru-baru ini saya tahu kalau ia ada di resepsionis yang juga sering mengabsenkan saya. Saya suka atmosfir seperti ini.
Saya menikmati saat-saat saya berada di Cijawura. Bahkan malam-malam yang saya habiskan sendiri dan memikirkan tentang seseorang. Jadi jika nanti di masa depan saat saya membaca postingan ini, saya tahu dan yakin bahwa saya benar-benar menikmati saat saya di Cijawura.
2 komentar:
Tau alm. mang Ibing ga, do?
Dia kan rumahnya di Cijawura :'D
eh ada ninis :D
gue jadi kangen jaman masih magang, kantornya cozy banget, lantai 6, liat langit yang berubah-ubah, orangnya rame :)
Poskan Komentar