Jumat, 24 Juni 2011

Temani aku

“Temani aku pulang.”

Aku tak tahu apakah itu kalimat perintah atau kalimat permintaan. Aku tak peduli. Tahu-tahu kita sudah duduk berdua saja sudah di dalam mobilmu.

“Aku yang menyetir,”, ujarku.

Kau diam sebentar, lantas tertawa kecil. “Tapi ini mobilku.”

“Tapi aku Gentleman.

“Dan aku Feminist,”

Namun tetap saja kau keluar dan berputar ke kursi penumpang sembari menyerahkan kunci padaku. Aku tersenyum lalu membukakan pintu untukmu. Gentleman dan petugas Parkir Valet, aku sudah tak tahu lagi bedanya.

Aku menyetir, kau diam saja menghadap jendela. Sunyi hinggap di udara. Lampu jalan silih berganti. Kilometer berputar. Sunyi tetap hinggap. Ia enggan pergi.

“Aku capek…” ujarmu. Akhirnya.

Aku tertawa. Siapa yang tidak jika sesibuk dirimu? Pikirku. Lalu kuucapkan.

“Bukan itu…” jawabmu.

Ingin kutanyakan tentang apa tapi mendadak aku ragu. Ragu kenapa pun aku tak tahu.

“Bisa kita mampir ke rumah temanmu? Aku parkir motorku disana. Tak jauh kan dari situ ke rumahmu?”

Kau mengangguk.

“Kau benar-benar ingin pulang?” tanyaku.

“Apa aku benar-benar punya rumah?” tanyanya balik.

“Tentu saja. Mungkin. Aku tak tahu.” Aku merasa tolol

Kamu tertawa lagi. Aku tertawa. Makin tak mengerti. Kilometer terus berputar.

“Kamu yakin ingin pulang?” Tanyamu balik

“Yep. Mungkin.” Aku merasa makin tolol.

Kamu tertawa lagi. Aku tersenyum.

Bagaimana mungkin aku ingin pulang saat bisa berdua bersamamu? Diam-diam aku berharap rumahmu ada di ujung semesta. Kita tempuh jutaan tahun cahaya lalu tersesat dan mengulang dari awal lagi. Lalu mobilmu dihantam meteor. Lalu kita menjadi Adam dan Hawa di sebuah planet yang terlalu mirip bumi.

Takkan kukatakan. Takkan pernah kukatakan. Gila apa?

Akhirnya kita sampai di rumah temanmu yang juga temanku. Aku hampir turun dari mobil saat tiba-tiba kau berkata,

“Berputarlah di kompleks ini sekali lagi.”

“Untuk apa?” ujarku. Tapi tak kukatakan. Aku hanya mengangguk.

Beberapa saat lalu kau berkata,

“Aku tak ingin pulang ….”

“Mungkin aku juga tak ingin pulang. Aku hanya ingin berdua bersamamu di dalam mobil ini.”

Akhirnya sunyi milikku pecah. Lalu kita berciuman didalam mobil di bawah cahaya bintang dari jutaan tahun cahaya.


Tribute to The Smiths

0 komentar: