Rabu, 22 Juni 2011

Memelukmu

Ia berjalan sendiri saja sampai di depan motornya. Lampu disekitarnya menyala terang. Pohon-pohon yang ada gelap dan menakutkan. Kontras. Ia tak peduli. Dunianya hanya ada di pikirannya sendiri saat ini.

“Tidak masuk dulu, segelas teh atau kue kesukaanmu?” ia mengingat ucapan gadis itu.

“Untuk apa?”, namun tak sempat ia katakan. Hatinya penuh namun mulutnya kosong. Ingin sekali ia menempeleng rama-rama yang tak sengaja hadir di tembok rumahmu sampai jatuh. Apa alasannya mendadak ia lupa.

Gadis itu terdiam. Ia mengerti. Kemudian ia diam lagi.

“Aku pulang.” Akhirnya. Ia berharap kau mencegah atau berprosa barang sebait sebuah puisi cinta mencegahnya pulang. Tapi kau diam. Akhirnya ia mengerti. Kamu juga mengerti. Rama-rama kembali terbang diantara mereka. Laki-laki itu mendadak tak peduli.

Ia ingin menempelengmu.

Di depan motor itu ia menghela nafas panjang. Paru-parunya berat. Hatinya jauh lebih berat. Pikirannya kemana-mana namun tangannya mengenggam setang sepeda motor. Ia tak ingin berada dimana-mana, ia hanya ingin tidak berada di sini. Sederhana. Sesederhana cintanya. Sesederhana penolakanmu. Dunianya sederhana, duniamu yang terlalu rumit.

Ia berjalan dari beranda rumahmu dan yang diperhatikannya hanyalah sepatu barunya. Ia ingat saat mereka berjalan bersama dan gadis itu mentertawakan sepatunya. Ia ikut tertawa. Mendadak ia merasa harus memberi tahumu tentang itu.

“Hei, aku membeli sepatu baru.” Mendadak ia merasa tolol. Berjuta-juta kalimat cinta yang ada ia hanya berkata seperti itu.

“Ah ya…bagus…” dan gadis itu tersenyum.

Lalu ia berpikir tentang senyummu. Tawamu. Tanganmu. Semuanya tentangmu. Ia bersedih tapi tak ingin menangis. Untuk apa? Tak membantu. Lalu ia melihat air matamu.

Diatas motor itu ia gas dalam-dalam. Dalam sunyi ia menangis. Sayang kau takkan ada mengusap air matanya. Lampu-lampu jalan hanya akan menyinarinya sedang pohon-pohon akan menghadangnya beberapa menit lagi sampai motornya hancur. Tapi ia tak tahu. Karena beberapa menit ini ia biarkan air mata memilikinya diam-diam. Lalu nanti saat sebatang pohon menghajar motornya, malam akan memeluknya lebih erat dan enggan melepasnya pergi.

0 komentar: