Jumat, 04 Januari 2013

Selamat

Malam.

Aku tak tahu apa kamu terbangun atau tidak, tapi pukul sekarang? Kamu pasti jika sudah tertidur.

Ah selamat malam. Maaf, kata-kata itu harus kuucapkan terputus-putus. Aku tak tahu kenapa. Mungkin dalam hatiku aku berharap kamu akan berpikir tindakanku itu keren. Konyol kah? Maaf.

Kenapa pula harus aku yang meminta maaf. Bukankah selama ini aku yang selalu menanti dan membuka jendela. Sedang kamu, dengan segala keindahan yang dititipkan padamu, melempari jendela dengan batu dan mendobrak pintu dengan bahu. 

Jadi hari sudah malam. Semestinya aku bekerja. Aku tak peduli. Aku sedang tak ingin bekerja. Aku sedang tak ingin apa-apa. Aku ingin duduk di depan pintu kamar, menatap langit lalu berpikir tentang apa-apa. Aku senang menulis ternyata. Aku baru menyadarinya.

Aku tidak boleh tertidur, karena itu tulisan ini akan terus mengalir. Ini bukan puisi...kurasa bukan. Tapi aku sudah tak pernah tahu lagi apa definisi puisi dan narasi. Empat tahun di elektro berhasil membuatku semakin tumpul dan tajam secara bersamaan.

Kuulangi, selamat malam. Aku sempat berharap kamu membalas, sebentar saja kemudian berhenti saat aku ingat bahwa aku sedang menulis sendiri. Bodoh? Tentu. Aku selalu bodoh jika melakukan apapun yang terkait denganmu.

Pukul berapa di tempatmu sekarang? Aku tak tahu pukul berapa sekarang di tempatku. Aku hanya cukup melirik ke kanan bawah, tapi aku muak dengan angka. Aku muak dengan komponen. Aku muak dengan apa pun.

Berapa saat lagi entah aku akan menjadi apa. Aku mungkin akan duduk lalu terdiam. Bisa jadi duduk lalu berdiri lalu mulai menari. Aku tak perlu merahasiakannya padamu. Kamu boleh dan akan selalu merahasiakan apa pun sedang aku adalah buku terbuka di matamu.

Jadi, selamat malam.

Rabu, 07 November 2012

Halo November 2012

Saya tidak akan berbasa-basi dan meminta maaf tentang betapa jarangnya saya menulis di blog saya ini. Andaikan saya adalah blog saya, saya sudah muak dengan ucapan maaf. Tidak ada yang berubah.

Tapi saya akan menulis. Sekedar menulis. Untuk mengingat di masa depan mungkin. Tapi sebenarnya saya menulis untuk diri saya di masa ini. Saya hanya ingin sekedar menulis.

Selama ini saya menulis puisi. Lebih praktis. Pendek, singkat. Puisi beberapa bait selalu menjadi peti cerita kecil saya. Saya akan ingat tentang saya sedang menulis puisi itu. Sedang apa saya, kenapa saya menulis, tentang apa tulisan itu. Saya ingat semua. Saya berpuisi untuk mengingat. Aneh mungkin, tapi cukup manjur saya rasa

Mungkin saya berubah dari Aldo di bulan Oktober 2012. Mungkin juga tidak. Lagipula, mana ada orang berubah secepat itu? Kondisi selalu berubah. Kita tidak. Kita orang yang sama. Kita selalu orang yang sama.

Sudah cukup lama saya tidak menulis panjang seperti ini. Cukup lama sehingga saat saya mulai menulis lagi saat ini, saya kemudian tersadar betapa saya merindukan menulis saya seperti ini. Saya seharusnya belajar. Saya tak peduli. Saya sedang ingin menulis.

Apa yang saya ingin? Saya tak pernah benar-benar tahu. Inginnya saya bekerja. Namun ketika akan bekerja, saya ragu. Kemudian inginnya saya menganggur. Namun ketika menganggur, saya bosan. Jadi, apa yang sebenarnya saya inginkan?

Apakah kita benar-benar punya keinginan?

Saya sedang tak ingin membahasnya. Saya sedang ingin menulis. Itu satu-satunya hal yang tak membuat ragu saat ini.

Beberapa hari lagi saya tidak ada di tempat ini. Mungkin. Mungkin juga tidak. Apa yang saya tahu tentang esok?

Saya menyambut November karena November adalah permulaan yang baik. Desember adalah bulan terbaik dan November adalah permulaan yang baik. Saya tidak bercanda saat mengatakan bahwa bulan Desember adalah bulan yang terbaik. Jika anda tanya alasannya, saya tak tahu. Anda boleh tidak setuju, saya tidak peduli. Namun bagi saya begitu. Selalu begitu.

Dimana saya beberapa bulan lagi? Saya tak tahu. Beberapa tahun lagi? Saya tak tahu. Beberapa puluh tahun lagi? Saya tak tahu. Apa yang benar-benar saya tahu? Saya tak tahu. Saya tak tahu. Saya tak tahu.

Jadi mungkin jika beberapa bulan ke depan saya membaca tulisan yang membuat dahi anda mengerenyit ini saya akan bisa membaca semuanya. Saya tahu tentang diri saya yang mengucapkan, "Halo" pada bulan November. Saya tahu tentang Aldo yang tidak tahu apa-apa. Saya tahu tentang Aldo yang tak tahu apa inginnya. Saya tahu segalanya tentang Aldo saat ini.

Saya rasa saya harus melangkah. Bukankah selama ini selalu begitu? Saya tak tahu kaki ini membawa saya kemana namun saya rasa jika yang mengarahkan adalah pikiran saya, saya akan baik-baik saya. Apakah yakin? Tentu tidak :)

Ah, November....

Sabtu, 05 Mei 2012

My generation

Negeri ini menyedihkan. Yang peduli, tidak punya kuasa. Yang punya kuasa, tidak peduli. Sedih banget ye? Entah dimana yang salah tapi emang keknya ada yang salah dengan kita. Kebobrokan berjalan di semua tingkatan mulai dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah.

Contohhhh. Aparat negaranya pada korupsi. Belakangan media seakan-akan ga akan keabisan artikel buat ngebahas masalah korupsi yang terjadi di berbagai lembaga negara. Mulai dari kementrian, pajak, lembaga hukumnya, sampai lembaga tinggi mulai dari DPRD ampe DPR nya sekalian pasti ada aja korupsinya. Ckckcckck

Tapi ada masalah lain yang sering luput bung. Kita boleh protes dengan kebobrokan para perangkat negara tersebut. Namun di sisi lain juga muncul banyak kejanggalan di kehidupan bermasyarakatnya. Para Mahasiswa yang seringkali mengeluh tentang kinerja pemimpinnya, sebagian dari mereka adalah Mahasiswa yang sama yang kerjaannya cabut kuliah dan titip absen. 

Para pengguna jalan raya yang sebel setengah mati saat jalan mereka di potong2 seenaknya sama motor patroli pengawal pejabat, sebagian dari mereka adalah pengguna jalan yang sama yang lebih milih nyogok saat di tilang. 

Para masyarakat yang koar-koar setengah mati saat produk budaya mereka di cap milik asing, sebagian dari mereka adalah masyarakat yang ga pernah tau bahwa mereka punya. Dan andaikan tahu, mereka lebih memilih ga peduli.

Daftar diatas bisa dibuat jadi panjang banget ampe satu buku. Terus bro Aldo, maksud anda nulis gitu tuh apa? Jadi gini sob, ada gejala bahwa kebanyakan dari masyarakat kita akan memanfaatkan posisi yang dia pilih untuk dapat keuntungan lebih dari hak mereka. 

Maksudnya gini. Kenapa pejabat itu bisa pada korupsi ampe milyar-milyaran itu karena posisi mereka yang memungkinkan dia untuk korupsi kek gitu! Sama kenapa tukang tambal ban yang suka nebarin paku karena dengan gitu dia dapat lebih menjerat korban.

Dengan bahasa simpel, mereka memanfaatkan posisi yang dia miliki. Ibaratnya, tindakan mereka sama-sama dalam satu tingkat namun dalam cakupan yang jauh lebih luas. Kalau misalnya sebagai seorang tukang tambal ban dia nyebarin paku. Kemudian karena peruntungan nasib kemudian dia bisa jadi anggota dpr. Apa iya anggota DPR nyebarin paku? Udah ga level dong. Apa yang level? Gampang, korupsi APBN!

Jadi kalo mau dibuat secara kasar dan teramat tidak sopan, tindakan tukang tambal yang nyebarin paku, pengendara kendaraan bermotor yang nyogok, adalah sama buruknya dengan korupsi karena kemampuan maksimum yang memungkin dilakukan oleh orang itu cuma segitu. Kalau lebih berkuasa? Naik lagi levelnya.

Well, enough for the problems. Solusinya apa? Solusinya simpel: akui. Loh kok akui? Yep, akui dulu aja. Kalo emang anda pernah melakukan hal diatas, ya sudah akui. Semua orang punya masa lalu. Kalo kata2 kerennya sih: "Every sinner has a future, every saint has a past." Manusia selalu punya masa lalu namun selagi masih idup manusia masih masa depan.

Namun, akui saja tidak cukup. Langkah berikutnya adalah tidak mengulangi. Simpel. Udah gitu aja. Lalu yang paling penting, minimalisir kerusakan yang telah anda timbulkan. Sebagai contoh jika anda tukang tambal ban dan nyebarin paku, anda bisa nyariin kembali paku2 tersebut dan mengamankannya. Kalo anda menggunakan sim yang nembak umur, yah jangan dipake lagi ampe usia resmi. Dannnnn seterusnya

Selasa, 27 Maret 2012

Music Video

Halo guys! Sudah saatnya gw mengarahkan blog ini menjadi sekedar jurnal online dan mulai menjadi ajang berbagi, hehehe.

Oke, belakangan ini gw sering banget liat video klip-video klip dari para musisi kondang dan yang tak terlalu kondang. Dan ada beberapa yang perlu gw share, so check it out:

1. R.E.M-Losing My religion

http://www.youtube.com/watch?v=xwtdhWltSIg&ob=av2e

This video clip is epic. Simply epic. Milk rain, fallen angel, blacksmith, you name it. Keren sih ngeliat sinematografinya. You literally can pause it at any time and you'll get an awesome picture! And btw, who can't ignore Michael Stipe's dancing? hehe

2. Johnny Cash-Hurt

http://www.youtube.com/watch?v=o22eIJDtKho&list=FLP8WL5EeLT5mfsFqMc4wJ6w&index=6&feature=plpp_video


It's Johnny Cash, nuff said. It's like he's putting his soul to this song and let it touch us. The video is haunting. See it. See it. See it 100 times.

3. Nirvana- You Know You're right

http://www.youtube.com/watch?v=qv96yJYhk3M&list=FLP8WL5EeLT5mfsFqMc4wJ6w&index=5&feature=plpp_video

One of the last work of Cobain and simply one of his best. The Video itself is a compilation of many Nirvana acts. After you see it, you gotta be know why in their time Nirvana is literally ruling the world.

4. Unkle-Rabbit in your Head

http://www.youtube.com/watch?v=cud_k9f6tqk&list=FLP8WL5EeLT5mfsFqMc4wJ6w&index=9&feature=plpp_video

The song written by Thom Yorke. The Video clip is awesome and has a big boom for the ending.

Okay, that's all folks! Tell me when you already enjoy it :)

Sebuah sore yang romantis, bukan begitu Sayang?

Tetes-tetes hujan yang turun tak sempat mengiba kepada awan untuk menurunkan mereka lain kali saja. Dan nanti saat tetes hujan itu menyentuh daun-daun ringkih di pepohonan, daun-daun itu takkan sempat meminta kepada tetes hujan untuk turun di tempat lain saja supaya tak memaksa mereka rontok ke tanah.

Namun daun yang jatuh tak membeci siapa-siapa. Hujan yang turun tak pernah benci kepada awan. Awan takkan pernah membenci hujan yang menjadikannya tiada.