Senin, 27 Februari 2012

Hujan

Pintu depan toko berdenting. Monde tak peduli, pikirannya semua terfokus kepada lukisannya. Tidak juga terhadap cuaca, udara yang lembab dan beberapa kecoak yang sedari tadi mondar-mandir di studionya.

"Telat lagi, Jack?" tanyanya singkat.

"Maaf tuan Monde." jawab suara itu singkat.

Monde tak peduli pada jawaban Jack. Dipandangnya Jack singkat, badannya basah kuyup. Sedetik kemudian perhatiannya sudah kembali kepada lukisannya.

"Di luar hujan?" tanyanya lagi.

"Deras, tuan." jawab Jack.

"Susu?"

Jack hanya mengangguk. Badannya basah kuyup dan tetesan segar susu menetes dari badannya. Berhati-hati agar tak mengotori karpet, ia berjingkat pelan menaruh mantelnya di ruang untuk karyawan di belakang kasir.

"Susu?" tanya Monde lagi.

"Maaf, apa tuan?"

"Kutanya, Susu?" Monde tampak sedikit kesal harus mengulang pertanyaannya tiga kali. "Hujan susu lagi kah diluar?"

"Iya tuan, hujan susu." ujar Jack takut-takut.

Setelah menunggu beberapa saat dan tak ada pertanyaan lagi Jack berjalan perlahan ke gudang. Berjalan ia ke koridor depan setelah mengambil pel dan sebuah ember kosong. Ditaruh begitu saja didepan kemudian ia kembali ke dalam.

Merasa tak ada lagi yang dapat dikerjakan, ia memperhatikan lukisan Monde. Lukisan pai. apel Sederhana.

"Lukisan yang bagus tuan." puji Jack.

Monde menghentikan sejenak pekerjaannya. Menikmati pujian Jack sesaat. Sambil tersenyum ia berkata,

"Kau tahu Jack, hanya karena kamu bekerja padaku bukan berarti kau harus berbohong untuk menyenangkanku."

Jack terkejut. Buru-buru ia berkata. "Ti, tidak tuan! Lukisan anda sungguh-sungguh indah!"

Jack tidak berbohong. Lukisan Tuan Monde memang Indah. Paling tidak menurutnya. Jack tak pernah tau macam-macam lukisan. Sebagian besar lukisan yang ia tahu adalah lukisan buatan tuan Monde.

"Cicipilah..." ujar Tuan Monde.

Jack tampak ragu-ragu dengan permintaan itu. Rasanya kurang ajar jika ia mencicipi lukisan yang sedang dikerjakan oleh Tuan Monde. Tapi dalam hati ia penasaran setengah mati dengan rasa dari lukisan yang dikerjakan oleh tuannya berminggu-minggu itu.

"Bolehkah, Tuan?" tanya Jack ragu.

Dimajukannya dagu Monde sebagai isyarat memperbolehkan. Mata Jack berbinar-binar ketika tuannya mengizinkannya mencicipinya. Disentuh Jack perlahan lukisan itu kemudian di cicipinya lukisan itu.

"Bagaimana?" tanya Monde. "Aku rasa ada yang sedikit kurang dengan lukisan ini..."

Jack setuju dalam hati. Rasa asam dan manis dari pai apel sudah pas tapi sedikit susu akan membuat kulit pai nya menjadi lebih enak dan menyatu dengan isinya.

"Mungkin sedikit susu akan membantu tuan?" saran Jack.

"Susu?" gumam Monde tak percaya. Dicicipinya lukisannya sendiri. Ia sadar ada yang kurang dari kulit pai itu. Kemudian ia tahu susu akan memperbaikinya. Ia tersenyum kemudian dengan satu gerakan tangan sopan ia memerintah Jack untuk menadah susu diluar.

Tanpa banyak pikir Jack bergegas ke koridor luar. Dicarinya ember yang ia tinggal tadi. Di sorongkannya ember itu diluar lindungan atap kemudian perlahan susu mulai mengisi ember itu.

Hujan sudah semakin reda tapi Jack pikir hujan rintik-rintik masih akan berlangsung beberapa jam lagi. Didalam tuannya sedang asik memberikan sentuhan akhir dan cuaca semacam ini biasanya membuat tuannya merasa senang untuk melukis.

Diliriknya ember itu namun belum juga penuh. Di depannya terhampar pemandangan kota yang tertutup cairan putih itu. Beberapa orang tampak sudah mulai keluar dari tempat berteduhnya dan mulai berjalan ke tujuannya setelah tertunda oleh hujan. Hanya orang bodoh seperti Jack saja yang nekat meneropos hujan saat sedang deras-derasnya.

Diliriknya dan tampak beberapa belalai masih terlihat di luar. Kota masih belum hidup. Ember belum juga penuh. Lalu pikiran Jack mengembara kemana-mana

Senin, 06 Februari 2012

Pukul 3 di dempo

Siapa sangka bahwa aku masih terbangun? Gila apa kalau tengah malam ini aku masih sempat-sempatnya disangka robot?

Siapa sangka menulis di laptop tidak semenyenangkan dulu? Sudah tak ada morfin, puisi pun mengalir seadanya, kata-kata tertahan di jendela dan enggan keluar.

Esok malam akan kutuliskan sebuah cerita yang takkan membuatmu bosan membacanya

Selasa, 06 Desember 2011

Sederhana

"Aku baru saja bermimpi aku masuk neraka."

Sesudah itu, tak ada kabar lagi tentangnya. Surat, suara, bahkan desah nafas yang dibawa angin. Hari itu hari Jumat, aku ingat benar. Bukan karena hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengannya. Tapi cenderung semata-mata karena hari itu adalah hari Jumat. Sederhana.

Tak sempat kutanyakan nerakamu itu seperti apa. Tapi kuduga nyaris tak ada beda dengan surga. Kecuali jauh lebih panas. Sederhana

Selasa, 08 November 2011

Sewaktu hujan datang

Sewaktu hujan datang, tiba-tiba bayanganku pergi ke jendela, menyelinap di balik di balik jeruji, kemudian pergi begitu saja lalu kembali saat hujan reda

Sejak saat itu aku tak memiliki bayangan saat hujan. Karena itu aku malu berjalan dibawah lampu saat hujan dan lebih memilih meringkuk sendiri di dalam kamar

Senin, 24 Oktober 2011

Mencuri Bulan (Part 2)

Nafasmu tertahan dan dari wajahmu tampak raut penasaran luar biasa. Walau begitu kau tetap terlihat cantik. Luar biasa cantik. Dan aku mulai berhenti berpikir tentang kelanjutan ceritaku tadi dan mulai berandai-andai sejak kapan aku duduk berdua saja dengan gadis secantik dirimu.

"Kau diam?", tanyamu retoris.

"Ah, ya. Kurasa aku diam..." Jawabku tak menjawab.

Lalu kau cemberut. Alih-alih takut aku malah tersenyum. Mana bisa ada orang takut dengan wajah cemberut semanis ini?

"Hei, lanjutkan ceritamu!" ujarmu. Entah pinta, entah perintah.

Aku hanya tersenyum. Dengan sekali gerakan kuambil kopi, kuteguk sedikit kemudian kukembalikan ke atas meja. Kau terlihat tak sabar. Aku tak peduli. Ini yang kunikmati saat menceritakan cerita padamu: ketidak sabaranmu.

"Bukan begitu aturannya. Bukankah dari awal kamu sudah setuju bahwa aku akan menceritakan sebuah cerita misteri?"

"Iya, tapi tidak beginiiiiii!" kau berteriak manja. "Bagaimana dengan pencurian bulannya? Dimana misterinya? Lalu apakah si lelaki itu akan mendapatkan hati gadis itu?"

"Sabar..."ujarku. "Kamu harus menikmati cerita seperti meminum kopi. Terlalu cepat dan kamu akan kehilangan kesempatan menikmati rasa dari kopi itu. Terlalu lambat, kopi akan menjadi dingin dan kehilangan aromanya."

Kamu akhirnya menarik diri ke belakang, bersandar ke kursi. Sekeras mungkin kamu berusaha tampak santai, tapi percuma. Kamu tetap tampak penasaran setengah mati. Akhirnya kau berkata pelan, "Lanjut ceritamu...ya?"

"Yan akan kulanjutkan. Nikmati saja. Mungkin pada akhirnya laki-laki itu akan mencuri bulan. Mungkin juga tidak. Mungkin akan ada misteri, mungkin juga tidak. Tapi walau tak ada misteri sekali pun, hal itu akan menjadikannya sebuah misteri baaru karena aku menjajikanmu sebuah cerita misteri dan aku bukan seorang pembohong."

"...dan masalah apakah laki-laki itu mendapatkan hati gadis itu, kuserahkan penilaian itu padamu di akhir cerita. Bukankah perempuan jauh lebih ulung tentang masalah hati?"

Kau tersenyum. Aku tahu kamu ingin berbicara dan menyudutkanku tapi entah bagaimana caranya dapat kau tahan. Kau hanya mengangguk. Dan entah untuk berapa kalinya dalam hari ini, aku tersenyum. Kutarik nafas sekali lagi kemudian kulanjutkan ceritaku...