Malam.
Aku tak tahu apa kamu terbangun atau tidak, tapi pukul sekarang? Kamu pasti jika sudah tertidur.
Ah selamat malam. Maaf, kata-kata itu harus kuucapkan terputus-putus. Aku tak tahu kenapa. Mungkin dalam hatiku aku berharap kamu akan berpikir tindakanku itu keren. Konyol kah? Maaf.
Kenapa pula harus aku yang meminta maaf. Bukankah selama ini aku yang selalu menanti dan membuka jendela. Sedang kamu, dengan segala keindahan yang dititipkan padamu, melempari jendela dengan batu dan mendobrak pintu dengan bahu.
Jadi hari sudah malam. Semestinya aku bekerja. Aku tak peduli. Aku sedang tak ingin bekerja. Aku sedang tak ingin apa-apa. Aku ingin duduk di depan pintu kamar, menatap langit lalu berpikir tentang apa-apa. Aku senang menulis ternyata. Aku baru menyadarinya.
Aku tidak boleh tertidur, karena itu tulisan ini akan terus mengalir. Ini bukan puisi...kurasa bukan. Tapi aku sudah tak pernah tahu lagi apa definisi puisi dan narasi. Empat tahun di elektro berhasil membuatku semakin tumpul dan tajam secara bersamaan.
Kuulangi, selamat malam. Aku sempat berharap kamu membalas, sebentar saja kemudian berhenti saat aku ingat bahwa aku sedang menulis sendiri. Bodoh? Tentu. Aku selalu bodoh jika melakukan apapun yang terkait denganmu.
Pukul berapa di tempatmu sekarang? Aku tak tahu pukul berapa sekarang di tempatku. Aku hanya cukup melirik ke kanan bawah, tapi aku muak dengan angka. Aku muak dengan komponen. Aku muak dengan apa pun.
Berapa saat lagi entah aku akan menjadi apa. Aku mungkin akan duduk lalu terdiam. Bisa jadi duduk lalu berdiri lalu mulai menari. Aku tak perlu merahasiakannya padamu. Kamu boleh dan akan selalu merahasiakan apa pun sedang aku adalah buku terbuka di matamu.
Jadi, selamat malam.