Menunggu di lantai satu
Pikirannya menyuruhnya untuk beranjak dari tempat ini sedari tadi, namun ia tak pergi juga dari situ. Otaknya sudah muak menyuruh dirinya untuk berlogika barang sebentar, dirinya menutup diri dari kemungkinan-kemungkinan logis. Namun lucunya, hatinya juga berkata bahwa takkan ada yang berubah.
Tetap saja walau otak dan hatinya berkata hal yang sama ia bersikeras menunggu. Bodoh memang, perasaan dan pikiran sama-sama berkata tidak namun ia tak peduli. Optimis? Bukan, seseorang berhak dikatakan optimis kalau masih ada kemungkinan yang tersisa. Jika tidak ada? Mungkin bisa disebut menyedihkan
Sebenarnya ia ingin ada seseorang yang datang. Lalu berkata bahwa tindakannya itu bodoh lantas akan diurungkannya niatnya. Sayangnya tak ada yang tahu. Tak ada yang mau tahu. Tak pernah ada yang peduli. Ia sendiri di lantai satu, sedang orang-orang tak pernah mau tahu urusannya. Ia sudah tak bisa mendengarkan dirinya sendiri, ia butuh orang lain. Tapi siapa? Dan mengapa orang lain harus peduli?
Kemudian ia datang, dan impian hancur
Ia mencoba melakukan hal yang biasanya ia baik dalam melakukannya: ia membohongi dirinya sendiri. Untuk beberapa saat ia berhasil. Ia tertawa dan tak ada sesuatu yang tak biasa. Namun ia kemudian menyadari hal: matanya berkaca-kaca saat tertawa. Impiannya hancur, bertekuk lutut dan ia tahu ia bukannya tak apa-apa.
Ia tahu ia ingin menangis tapi ia lupa caranya.
